Proses negosiasi tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Doha, Qatar, dilaporkan telah mencapai kemajuan yang konstruktif. Kabar ini dikonfirmasi oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, yang menyebutkan bahwa kedua belah pihak berhasil mendiskusikan implementasi nota kesepahaman (MoU) dengan hasil yang positif.

Diskusi ini merupakan tindak lanjut dari perundingan yang sebelumnya sempat dilakukan di Swiss. Fokus utama pertemuan kali ini adalah membahas teknis pelaksanaan kesepahaman yang sempat terhambat. Kemajuan tersebut dinilai sebagai sinyal positif di tengah tensi diplomatik yang selama ini mewarnai hubungan kedua negara.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, mengungkapkan bahwa pihak Iran secara khusus menyoroti beberapa poin penting. Termasuk di dalamnya adalah dugaan pelanggaran komitmen oleh pihak Amerika Serikat terkait penghentian konflik di Lebanon, serta kekhawatiran Iran mengenai penguatan militer AS di kawasan Timur Tengah yang dianggap provokatif.

Nota kesepahaman yang menjadi dasar perundingan ini sebelumnya telah ditandatangani secara elektronik pada 18 Juni lalu oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump, dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, bertindak sebagai mediator utama. Kesepakatan ini diharapkan menjadi instrumen krusial dalam meredam ketegangan regional.

Terkait agenda ke depan, kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan pembahasan di putaran selanjutnya. Namun, jadwal pertemuan baru tersebut akan menunggu hingga prosesi pemakaman mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, selesai dilaksanakan guna menghormati masa berkabung nasional di Iran.