Kerja sama ekonomi lintas kawasan kini memasuki babak baru dengan resmi dibentuknya Kamar Dagang ASEAN-Hong Kong. Organisasi ini diproyeksikan menjadi katalis utama dalam menjembatani arus perdagangan serta investasi antara kawasan Greater Bay Area (GBA) yang dinamis dengan negara-negara di Asia Tenggara.

Greater Bay Area sendiri merupakan pusat ekonomi strategis di sisi selatan daratan China yang mencakup Hong Kong, Makau, serta sembilan kota di Provinsi Guangdong. Sebagai kawasan dengan skala ekonomi yang mencapai puluhan triliun dolar AS, GBA telah bertransformasi menjadi pusat inovasi, teknologi, dan manufaktur berskala global yang memegang peranan krusial dalam rantai pasok dunia.

Bagi Indonesia, kehadiran wadah baru ini menjadi peluang emas untuk mendiversifikasi sumber investasi. Kadin Indonesia melalui perwakilannya menekankan target kolaborasi pada sektor manufaktur, khususnya ekosistem kendaraan listrik, serta akselerasi di bidang ekonomi digital. Dengan memanfaatkan bonus demografi dan tingginya pengguna internet di Tanah Air, Indonesia berupaya menarik para investor dari pusat inovasi seperti Shenzhen dan Guangzhou.

Hong Kong, sebagai hub finansial dan logistik, dinilai memiliki posisi yang ideal untuk memfasilitasi kerja sama ini. Dengan keunggulan sistem pajak yang sederhana, perlindungan hak kekayaan intelektual yang kuat, serta arus modal yang bebas, Hong Kong akan bertindak sebagai pintu masuk utama bagi perusahaan GBA untuk berekspansi ke pasar ASEAN yang dihuni oleh hampir 700 juta jiwa.

Dalam forum GBA-ASEAN Summit 2026, sejumlah pemimpin negara di Asia Tenggara, termasuk perwakilan dari Indonesia, Filipina, dan Timor Leste, menegaskan komitmen mereka untuk membangun iklim investasi yang lebih transparan. Fokus utama kolaborasi ke depan diarahkan pada peningkatan konektivitas infrastruktur yang berkelanjutan serta penciptaan lingkungan bisnis yang efisien demi mencapai kemakmuran bersama bagi kedua kawasan.