Dunia kembali menaruh perhatian serius terhadap penyakit Ebola setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan status Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC). Lonjakan kasus yang kini merambah hingga ke wilayah Eropa menjadi alarm bagi komunitas global, mengingat tingkat fatalitas penyakit ini yang mencapai rata-rata 50 persen.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dr. Farindira Vesti Rahmasari, M.Sc., Ph.D., menekankan bahwa tantangan terbesar dalam penanganan Ebola adalah kemiripan gejala awal dengan penyakit influenza. Pada fase awal yang dikenal sebagai dry symptoms, penderita biasanya mengalami demam, nyeri otot, kelelahan, dan sakit tenggorokan. Kondisi ini sering kali mengecoh masyarakat sehingga keterlambatan penanganan sulit dihindari.
Dr. Farindira menjelaskan bahwa virus dari genus Orthoebolavirus ini memiliki masa inkubasi antara dua hingga 21 hari, dengan gejala klinis yang umumnya muncul pada hari kedelapan hingga kesepuluh. Jika tidak segera ditangani, infeksi akan berkembang menjadi kondisi berat, ditandai dengan muntah, diare, serta gangguan fungsi hati dan ginjal yang dapat berakhir dengan perdarahan hebat.
Penularan virus Ebola sangat bergantung pada kontak langsung dengan cairan tubuh penderita. Oleh karena itu, tenaga kesehatan, keluarga perawat, hingga petugas pemulasaraan jenazah masuk dalam kategori kelompok berisiko tinggi. Selain kontak antarmanusia, interaksi dengan satwa liar seperti kelelawar buah atau primata di daerah endemis juga menjadi celah penyebaran virus yang perlu diwaspadai.
Sebagai langkah preventif, masyarakat diimbau untuk tidak menyepelekan riwayat perjalanan dari wilayah terdampak. Transparansi informasi kepada tenaga medis mengenai riwayat mobilitas menjadi kunci krusial dalam mempercepat proses diagnosis dan penanganan. Selain itu, disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan dan menghindari kontak langsung dengan pasien atau barang yang terkontaminasi menjadi garda terdepan untuk memutus rantai penularan di tingkat lokal.