Pemerintah Iran melalui Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya melontarkan peringatan tegas terhadap aktivitas militer Amerika Serikat di Selat Hormuz. Ketegangan ini mencuat setelah Teheran mendeteksi pergerakan jet tempur dan pesawat nirawak (drone) milik AS di sepanjang jalur pelayaran strategis tersebut, yang menurut pihak Iran, berpotensi merusak keamanan kawasan.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kamis (2/7/2026), otoritas militer Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan menoleransi intervensi pihak asing di wilayah yang mereka klaim sebagai teritorial kedaulatannya. Teheran menyatakan kesiapan angkatan bersenjatanya untuk memberikan respons cepat dan tegas terhadap segala bentuk agresi yang mengancam stabilitas operasional di Selat Hormuz.
Selain menyoroti kehadiran militer AS, Iran juga mengeluarkan peringatan keras bagi seluruh kapal tanker dan komersial yang melintasi jalur tersebut. Pemerintah Iran mewajibkan setiap armada asing untuk mematuhi protokol navigasi yang telah ditetapkan. Kapal-kapal yang dianggap melanggar aturan jalur pelayaran terancam menghadapi tindakan langsung dari aparat keamanan Iran demi alasan keselamatan dan kedaulatan.
Situasi ini terjadi di tengah berlangsungnya proses diplomatik intensif antara Iran dan Amerika Serikat setelah tercapainya nota kesepahaman pada pertengahan Juni lalu. Nota tersebut memuat agenda perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari serta rencana pencabutan blokade laut. Saat ini, perundingan teknis terkait nota tersebut masih terus dikawal melalui mediasi aktif dari Qatar dan Pakistan, di samping pembahasan mengenai status program nuklir Iran.