Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Vietnam tengah mematangkan draf amandemen Undang-Undang Pencegahan dan Pengendalian Bahaya Tembakau. Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas munculnya berbagai produk tembakau generasi baru yang mengancam kesehatan masyarakat, serta untuk memperbarui regulasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Wakil Menteri Kesehatan, Profesor Tran Van Thuan, menekankan bahwa tembakau tetap menjadi salah satu kontributor utama penyakit kronis dan kematian dini di Vietnam, dengan catatan lebih dari 100.000 kematian per tahun. Pemerintah kini mengusulkan kebijakan tegas berupa larangan total terhadap produksi, perdagangan, hingga iklan rokok elektrik (vape) dan produk tembakau yang dipanaskan. Regulasi ini juga menyasar pelarangan pemajangan produk tembakau di gerai ritel untuk meminimalisasi paparan visual bagi konsumen.
Pergeseran paradigma manajemen ini difokuskan pada upaya preventif. Kemenkes menyoroti data mengkhawatirkan dari Institut Strategi dan Kebijakan Kesehatan, di mana 45% remaja pengguna rokok elektrik ternyata belum pernah mengonsumsi rokok tradisional. Fenomena ini menunjukkan bahwa produk nikotin modern telah menjadi pintu masuk bagi generasi muda menuju ketergantungan zat berbahaya.
Selain larangan produk, rancangan aturan ini akan memperketat pengawasan pada sektor e-commerce dan transaksi lintas batas. Tempat penjualan tembakau nantinya diwajibkan memiliki izin resmi, dilarang menjual kepada anak di bawah usia 18 tahun, serta dilarang beroperasi dalam radius 100 meter dari fasilitas pendidikan maupun kesehatan. Pemerintah berharap langkah komprehensif ini tidak hanya membatasi akses, tetapi juga membangun ekosistem yang sehat untuk melindungi masyarakat luas dari dampak buruk nikotin.