Kegemilangan saham-saham sektor kecerdasan buatan (AI) di pasar global kini memasuki fase penyesuaian. Investor asing terpantau mulai melakukan aksi jual masif di berbagai bursa Asia guna mengalihkan modal ke pasar yang memiliki valuasi lebih kompetitif, menyusul reli panjang yang sempat terjadi di negara-negara seperti Korea Selatan dan Taiwan.

Data mencatat arus keluar modal asing mencapai US$ 137,36 miliar di sejumlah bursa Asia sepanjang semester pertama 2026. Fenomena ini memicu kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap pasar modal Indonesia. Namun, para analis menilai bahwa keterkaitan antara emiten teknologi dalam negeri dengan volatilitas saham AI global cenderung minim.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa perbedaan fundamental menjadi benteng bagi bursa domestik. Emiten teknologi di Indonesia lebih didominasi oleh layanan konsumen digital, seperti e-commerce dan aplikasi ride-hailing, yang sangat bergantung pada stabilitas ekonomi domestik, nilai tukar rupiah, serta kebijakan suku bunga Bank Indonesia daripada tren teknologi semikonduktor global.

Lebih lanjut, Indonesia justru dinilai memiliki peluang emas sebagai lokasi strategis pengembangan infrastruktur pendukung AI. Absennya industri manufaktur chip di tanah air justru membuat pasar lokal terhindar dari guncangan langsung saat valuasi sektor semikonduktor dunia terkoreksi. Alih-alih sebagai produsen, Indonesia kini diposisikan sebagai hub potensial untuk data center, jaringan serat optik, dan kawasan industri digital.

Pandangan senada disampaikan Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus. Ia menegaskan bahwa peran Indonesia dalam ekosistem AI adalah sebagai pasar adopsi. Hal ini justru membuka celah bagi masuknya modal asing ke sektor-sektor strategis seperti penyedia cloud, telekomunikasi, dan infrastruktur jaringan 5G.

Sejumlah emiten yang bergerak di sektor infrastruktur digital, termasuk TLKM, EXCL, EMTK, hingga GOTO, dinilai memiliki prospek cerah untuk menangkap momentum limpahan investasi ini. Meski sentimen pasar global mungkin memengaruhi psikologi investor dalam jangka pendek, fundamental emiten teknologi Indonesia dianggap cukup tangguh menghadapi rotasi modal global yang sedang terjadi.