Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, mengajak generasi muda Indonesia untuk lebih mendalami dan menguasai teknologi kecerdasan buatan (AI). Ajakan tersebut disampaikan dalam konferensi tahunan Young On Top National Conference (YOT NC), yang mempertemukan mahasiswa serta profesional muda dari berbagai pelosok negeri.

Dalam kesempatan tersebut, Stella memaparkan bahwa AI memiliki potensi luar biasa jika diimplementasikan secara tepat di berbagai sektor krusial, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga dunia usaha. Ia mengimbau masyarakat untuk bersikap objektif dalam menyikapi teknologi ini dengan terus mengevaluasi keunggulan serta batasan-batasan teknis yang ada pada mesin pintar tersebut.

Lebih lanjut, Stella menegaskan bahwa peran perguruan tinggi di era modern kian krusial sebagai pusat inovasi. Kampus tidak boleh hanya berfungsi sebagai tempat transmisi materi akademik, tetapi harus bertransformasi menjadi filter yang mampu memilah informasi agar menjadi ilmu pengetahuan yang aplikatif bagi masyarakat luas.

Ia merumuskan tiga tanggung jawab utama universitas di tengah pesatnya perkembangan teknologi: memproduksi ilmu pengetahuan baru, menyebarluaskan materi edukasi, serta melakukan kurasi informasi secara kritis. Hal ini selaras dengan upaya pemerintah dalam mendefinisikan ulang makna kecerdasan di era digital, di mana kecerdasan bukan lagi sekadar kemampuan mencari informasi secara instan, melainkan kemampuan mengolah fakta menjadi pemahaman yang bermanfaat.

Melalui semangat 'Diktisaintek Berdampak', kementerian berkomitmen memacu institusi pendidikan tinggi untuk memperkuat ekosistem riset ilmiah. Langkah ini diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap teknologi canggih dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional di masa depan.