Menjalankan bisnis kuliner legendaris selama hampir lima dekade menuntut ketangguhan dan adaptabilitas yang tinggi. Mumun, pemilik Warung Betawi H. Muhayar yang berdiri sejak 1976, menyadari bahwa untuk mempertahankan bisnis di tengah fluktuasi harga bahan pokok dan perubahan perilaku konsumen, pengelolaan keuangan yang disiplin adalah keharusan.

Sebagai rumah makan yang dikenal dengan menu pecak gurame dan pecak ikan mas, Warung H. Muhayar kini telah mengadopsi sistem perbankan digital untuk memisahkan antara dana operasional bisnis dan keuangan pribadi. Penggunaan fitur Saku Bisnis dari Bank Raya menjadi titik balik yang membantu Mumun dalam memantau arus kas secara real-time dan transparan.

Tidak hanya efisien dalam pengelolaan modal, digitalisasi juga menyasar sisi operasional harian. Pembayaran gaji puluhan karyawan yang dulunya dilakukan secara manual kini telah beralih ke sistem transfer digital. Langkah ini secara signifikan menekan kerumitan administratif dan meningkatkan efisiensi waktu kerja.

Selain itu, penggunaan QRIS Bisnis dari Bank Raya juga memberikan kemudahan bagi pelanggan dalam bertransaksi. Langkah modernisasi ini tidak hanya mempercepat proses pembayaran, tetapi juga membantu pencatatan transaksi harian menjadi jauh lebih akurat dibandingkan era uang tunai.

Bagi Mumun, integrasi teknologi ke dalam bisnis tidak lantas menghilangkan identitas tradisional warungnya. Justru, digitalisasi menjadi instrumen pendukung untuk menjaga kualitas rasa dan pelayanan yang telah menjadi warisan lintas generasi, sekaligus memperkuat fondasi keuangan agar usaha tetap berkelanjutan di masa depan.