Dua senator senior dari Partai Republik, Tim Scott dan Bill Hagerty, baru saja memperkenalkan rancangan undang-undang (RUU) baru yang ditujukan untuk memperkuat pertahanan teknologi kecerdasan buatan (AI) Amerika Serikat. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk memastikan inovasi domestik tetap terjaga dari jangkauan negara-negara yang dianggap sebagai ancaman keamanan nasional.
Melalui legislasi ini, Departemen Perdagangan AS nantinya akan memiliki wewenang lebih luas untuk mengawasi dan membatasi transaksi teknologi. Hal ini mencakup larangan terhadap penggunaan teknologi yang dirancang, dikembangkan, atau disuplai oleh entitas yang dikendalikan oleh negara-negara rival, seperti China, Rusia, Iran, dan Korea Utara. Fokus utama perlindungan ini meliputi komponen AI yang tertanam dalam perangkat penting seperti ponsel, sistem kendaraan, hingga infrastruktur jaringan.
Senator Tim Scott, yang memimpin Komite Perbankan Senat, menegaskan bahwa kebijakan ini krusial untuk mencegah penyalahgunaan teknologi Amerika yang dapat berbalik mengancam keamanan negara. RUU ini juga mengusulkan pembentukan posisi spesifik di lingkungan Departemen Perdagangan, yakni asisten sekretaris untuk rantai pasokan teknologi informasi dan komunikasi, yang bertugas mengawasi implementasi aturan tersebut secara ketat.
Meskipun memiliki urgensi tinggi di bidang keamanan, pengamat mencatat bahwa pengesahan RUU ini mungkin akan menghadapi tantangan waktu. Mengingat sesi Kongres yang akan segera memasuki masa reses dan mendekati pemilihan umum, peluang RUU ini untuk disahkan secara mandiri cukup sempit, kecuali jika disisipkan ke dalam paket legislasi lain yang lebih mendesak.
Upaya ini sejalan dengan langkah Presiden Donald Trump yang sebelumnya telah mengeluarkan perintah eksekutif guna mendorong inovasi AI sekaligus melindungi kekayaan intelektual Amerika dari aksi pencurian atau eksploitasi oleh pihak asing. Selain perlindungan, legislasi tersebut juga diklaim tetap berkomitmen untuk menjaga agar perangkat lunak AI berbasis sumber terbuka (open-source) tetap dapat diakses oleh publik secara luas.