Menghadapi laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Timnas Inggris dihadapkan pada tantangan geografis yang cukup berat. Stadion legendaris tersebut terletak di ketinggian mencapai 2.240 meter di atas permukaan laut, sebuah kondisi yang menuntut adaptasi fisik prima bagi para atlet agar terhindar dari rasa lelah ekstrem dan pusing akibat minimnya kadar oksigen.

Situasi ini kian sulit bagi skuad Inggris karena keterbatasan waktu persiapan. Jadwal pertandingan yang padat setelah laga kontra RD Kongo hanya menyisakan waktu lima hari, jauh dari durasi 10 hari yang disarankan pakar untuk aklimatisasi sempurna di dataran tinggi. Di sisi lain, regulasi FIFA mewajibkan tim untuk berlatih langsung di stadion pertandingan satu hari sebelum laga, sehingga opsi untuk datang mepet jelang kick-off tidak dimungkinkan.

Merespons kendala tersebut, muncul wacana penggunaan obat vitalitas Viagra sebagai solusi medis. Meskipun dikenal luas sebagai obat disfungsi seksual, Viagra pada dasarnya dikembangkan untuk meregulasi tekanan darah. Secara medis, obat ini mampu melebarkan pembuluh darah di paru-paru, yang dapat membantu pemain mengoptimalkan asupan oksigen dan meredam gejala kelelahan saat berlaga di area berketinggian tinggi.

Kabar baik bagi tim medis Inggris, Badan Anti-Doping Dunia (WADA) tidak mencantumkan Viagra ke dalam daftar zat terlarang bagi atlet. Dengan demikian, langkah alternatif ini dinilai legal dan tidak akan menjatuhkan sanksi bagi para pemain jika nantinya diputuskan untuk digunakan dalam pertandingan krusial tersebut.