Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D., melontarkan peringatan keras terkait langkah safari politik yang dilakukan mantan Presiden Joko Widodo. Menurutnya, rangkaian kunjungan ke berbagai daerah tersebut bukan sekadar aktivitas politik biasa, melainkan langkah strategis yang berpotensi membawa dampak negatif bagi stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan pasar modal dan nilai tukar rupiah.
Didik menyoroti inkonsistensi pernyataan Jokowi yang sebelumnya berencana kembali ke Solo sebagai warga biasa setelah purnatugas. Ia menyebut manuver politik yang dilakukan saat ini sebagai langkah vulgar yang mengindikasikan adanya pergeseran dalam peta koalisi pemerintahan Prabowo Subianto. Aktivitas politik yang intens, termasuk kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dinilai berisiko menyita perhatian elite dari agenda ekonomi yang mendesak.
Lebih lanjut, Didik berpendapat bahwa keterlibatan pengaruh Jokowi dalam dinamika politik saat ini menciptakan ketidakpastian yang tidak menguntungkan bagi iklim investasi. Dalam perspektif ekonomi politik, ketegangan atau pergeseran hubungan antara presiden terdahulu dan petahana dapat mempengaruhi persepsi pelaku usaha, pemilik modal, serta efektivitas birokrasi dalam merumuskan kebijakan yang pro-pasar.
Meskipun indikator fundamental ekonomi Indonesia seperti tingkat inflasi dan neraca perdagangan saat ini masih menunjukkan tren yang positif, Didik menegaskan bahwa faktor non-ekonomi akibat dinamika politik justru menjadi ancaman nyata. Ia khawatir jika energi pemerintah terus terkuras untuk merespons persaingan elite, fokus utama untuk menjaga kesejahteraan rakyat akan terabaikan.
Sebagai kesimpulan, Didik menilai safari politik tersebut tidak memiliki korelasi langsung dengan kepentingan publik. Ia memperingatkan bahwa jika pola ini terus berlanjut, hal tersebut akan menjadi beban tambahan yang menghambat optimalisasi kinerja pemerintahan dalam mengelola ekonomi nasional di tengah situasi global yang penuh tantangan.