Musim kemarau panjang yang menyelimuti wilayah Kecamatan Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal, memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian setempat. Data terbaru menunjukkan produktivitas panen padi di kawasan tersebut mengalami penurunan menjadi 5,6 ton per hektare, atau menyusut sekitar 0,4 ton dari target yang ditetapkan.

Kondisi ini terungkap setelah jajaran Pemerintah Kecamatan Tambangan bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan kelompok tani melakukan evaluasi melalui metode ubinan di areal persawahan Saba Lombang, Desa Lumban Pasir. Berdasarkan pengamatan pada varietas padi Ciherang, cuaca ekstrem telah menghambat fase pembentukan malai padi karena kurangnya ketersediaan air yang optimal.

Camat Tambangan, Bahren Daulay, menekankan pentingnya langkah adaptasi bagi para petani di tengah iklim yang semakin sulit diprediksi. Beliau mendorong percepatan mekanisasi pertanian sebagai solusi mutlak untuk meningkatkan efisiensi dan hasil produksi di musim tanam berikutnya.

Meski mendorong penggunaan mesin bajak dan perontok padi modern, Bahren menegaskan bahwa transisi ini tidak boleh menghilangkan tradisi 'Mardege'. Budaya gotong-royong masyarakat Mandailing tersebut dinilai tetap krusial sebagai perekat sosial dan sistem pendukung ekonomi di perdesaan yang perlu dijaga kelestariannya.

Melalui sinergi antara teknologi pertanian mutakhir dan kearifan lokal yang telah mengakar, pemerintah daerah optimistis petani Tambangan dapat meminimalisir risiko kegagalan panen serta memperkuat ketahanan pangan di masa depan.