Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa belakangan ini, dengan suhu menembus angka 40 derajat Celsius, memicu perhatian publik terhadap minimnya penggunaan pendingin ruangan atau Air Conditioner (AC) di rumah-rumah warga Jerman. Fenomena ini kerap disalahartikan sebagai ketidakmampuan finansial, padahal realitanya melibatkan faktor geografis dan aturan yang sangat ketat.

Anisa Febriany Bahari, seorang warga negara Indonesia yang menetap di Jerman Utara, menjelaskan bahwa iklim negara tersebut secara historis lebih didominasi oleh musim dingin yang panjang. Selama bertahun-tahun, suhu musim panas di Eropa cenderung moderat, sehingga pemasangan AC dianggap sebagai investasi yang kurang efisien bagi mayoritas penduduk setempat.

Selain faktor cuaca, kendala utama bagi penyewa rumah adalah regulasi renovasi bangunan yang sangat ketat di Jerman. Proses perizinan untuk melakukan perubahan struktural pada properti, termasuk pemasangan unit pendingin ruangan, tergolong rumit dan memerlukan biaya tambahan yang signifikan, sehingga banyak orang memilih untuk tidak memasangnya sama sekali.

Di sisi lain, Finky Chica, WNI yang tinggal di Munich, menyoroti aspek arsitektural dan lingkungan. Mayoritas bangunan di Jerman dirancang dengan material yang mampu menahan suhu panas agar ruangan tetap hangat saat musim dingin. Konsep ini tentu bertolak belakang dengan fungsi AC yang membutuhkan energi besar.

Lebih lanjut, pemerintah Jerman juga menaruh perhatian besar pada keberlanjutan lingkungan. Penggunaan AC dinilai kurang selaras dengan kebijakan nasional terkait efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon. Oleh karena itu, penggunaan pendingin ruangan tidak menjadi prioritas bagi masyarakat di tengah upaya kolektif negara tersebut menjaga kelestarian lingkungan.