Eforia digitalisasi UMKM di Indonesia sering kali terjebak dalam angka-angka statistik yang mengglorifikasi jumlah pelaku usaha yang telah 'Go Digital'. Namun, di balik narasi kesuksesan tersebut, terdapat realitas yang kontradiktif. Banyak pelaku UMKM justru dipaksa terjun ke dalam ekosistem digital tanpa bekal literasi yang memadai, menjadikan perjalanan mereka sebagai proses trial-and-error yang penuh kerentanan struktural.
Kesenjangan antara agresivitas adopsi teknologi dan minimnya literasi menciptakan risiko fatal, mulai dari jebakan penipuan siber hingga praktik bisnis yang mengabaikan etika data. Alih-alih melakukan inovasi strategis, banyak pengusaha mikro terjebak dalam 'gimmick' pemasaran atau 'sedekah algoritma'—di mana mereka membakar biaya iklan tanpa pemahaman parameter audiens, yang justru menguntungkan platform raksasa alih-alih meningkatkan profitabilitas usaha itu sendiri.
Selain tantangan literasi, UMKM kini menghadapi fenomena kapitalisme platform yang memperlakukan mereka layaknya 'tuan tanah digital'. Dengan struktur biaya layanan yang kian mencekik, keuntungan tipis yang didapatkan pelaku usaha sering kali habis tersedot oleh potongan platform. Metrik seperti Gross Merchandise Value (GMV) yang sering dipamerkan pun dinilai kurang merepresentasikan kesehatan arus kas UMKM di level akar rumput.
Menjawab tantangan ini, peran institusi pendidikan dan pemerintah perlu dikalibrasi ulang. Kampus harus keluar dari 'menara gading' dan beralih menjadi pendamping klinis yang memberikan pendampingan berkelanjutan, bukan sekadar penyelenggara seminar singkat. Kolaborasi lintas generasi, di mana mahasiswa menjadi mentor bagi pelaku usaha, dapat menjadi jembatan untuk transfer teknologi yang membumi.
Lebih lanjut, pemerintah dituntut untuk melakukan intervensi kebijakan yang lebih nyata. Regulasi struktur biaya marketplace, perlindungan terhadap insiden keamanan siber, serta pengawasan atas praktik pasar yang tidak adil menjadi mutlak diperlukan. Teknologi hanyalah instrumen; tanpa nalar bisnis yang tajam dan fondasi literasi yang kuat, transformasi digital justru berisiko menjadi beban baru bagi keberlangsungan usaha mikro di Indonesia.