Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali menjadi sasaran serangan udara berskala masif oleh pasukan Rusia yang berlangsung dari Rabu malam hingga Kamis dini hari (2/7/2026). Insiden tragis ini mengakibatkan sedikitnya 13 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara 86 warga lainnya mengalami luka-luka akibat hantaman proyektil yang menghancurkan sejumlah gedung apartemen di pusat kota.

Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengonfirmasi jumlah korban tersebut melalui pernyataan resmi di media sosial. Serangan ini terjadi selang beberapa jam setelah Presiden Volodymyr Zelensky memberikan peringatan dini mengenai potensi serangan besar-besaran, yang memaksanya untuk mempersingkat agenda kunjungan kerjanya di Dublin.

Berdasarkan data dari Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan total 496 drone dan 74 rudal, termasuk jenis balistik yang dikenal sulit untuk dicegat. Meskipun sistem pertahanan udara Ukraina berhasil melumpuhkan 476 drone dan 48 rudal, sisa proyektil yang berhasil menembus pertahanan tetap menimbulkan kerusakan hebat pada area pemukiman warga.

Situasi mencekam memaksa masyarakat setempat mencari perlindungan di stasiun metro bawah tanah serta ruang-ruang bawah tanah gedung untuk bertahan hidup dari hujan rudal. Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiga, segera mendesak negara-negara sekutu untuk mempercepat pengiriman bantuan sistem pertahanan udara guna meminimalisir jatuhnya korban lebih lanjut.

Invasi yang kini telah memasuki tahun keempat tersebut terus memakan banyak korban jiwa dan menjadi salah satu konflik paling destruktif di benua Eropa sejak berakhirnya Perang Dunia II. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda penurunan tensi militer di wilayah tersebut.