Aktivitas impor di Jawa Barat mengalami tekanan sepanjang periode Januari hingga Mei 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, total nilai impor provinsi ini mencapai US$4,66 miliar, yang merepresentasikan penurunan sebesar 7,08% dibandingkan periode serupa pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$5,01 miliar.

Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, mengungkapkan bahwa kontraksi ini didominasi oleh merosotnya impor minyak dan gas (migas) sebesar 60,48%, dari angka US$663,47 juta menjadi US$262,21 juta. Sementara itu, sektor nonmigas justru mampu bertahan dengan pertumbuhan tipis 1,07% menjadi US$4,39 miliar.

Dalam dinamika perdagangan nonmigas, terjadi pergeseran tren pada sejumlah komoditas. Impor golongan kendaraan dan komponennya mencatatkan penurunan tajam sebesar 42,40%. Di sisi lain, sektor mesin serta perlengkapan elektronik menunjukkan performa positif dengan kenaikan nilai impor 16,32%, sekaligus menjadi kontributor terbesar dengan pangsa pasar mencapai 17,62%.

Tiongkok tetap memegang posisi strategis sebagai mitra pemasok utama bagi Jawa Barat dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 41,47% atau setara US$1,82 miliar. Meskipun demikian, impor dari mitra dagang besar lainnya seperti Jepang dan Korea Selatan terpantau mengalami pelemahan masing-masing sebesar 22,92% dan 13,82%.

Secara agregat, meskipun volume impor secara keseluruhan anjlok hampir 30%, Jawa Barat tetap mempertahankan posisi surplus neraca perdagangan luar negeri sebesar US$11,31 miliar pada periode Januari-Mei 2026. Surplus tersebut didominasi oleh kinerja ekspor nonmigas yang kuat, dengan Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar dalam neraca perdagangan daerah ini.