Dunia usaha di Indonesia saat ini tengah berada dalam fase waspada. Kombinasi antara melemahnya konsumsi domestik dan meningkatnya ketidakpastian tata kelola fiskal telah memicu sikap hati-hati yang ekstrem dari para pelaku industri. Hal ini secara langsung berdampak pada keengganan perusahaan untuk melakukan ekspansi bisnis, penambahan investasi, hingga perekrutan tenaga kerja baru.

Peneliti ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyoroti bahwa keresahan pengusaha berakar pada persepsi kurangnya kehati-hatian (prudence) dalam pengelolaan keuangan negara. Kekhawatiran ini kian diperparah dengan munculnya outlook negatif dari lembaga pemeringkat utang internasional, yang secara psikologis menggoyahkan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi jangka panjang Indonesia.

Kondisi ini tercermin jelas pada data S&P Global yang menunjukkan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia terkontraksi ke level 46,9 pada Juni 2026. Penurunan ini mengindikasikan bahwa sektor manufaktur tengah tertekan, yang jika tidak segera ditangani, berisiko memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang lebih masif akibat perusahaan yang lebih memilih mengurangi produksi.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menegaskan bahwa pemulihan kepercayaan merupakan kunci utama saat ini. Menurutnya, pemerintah perlu menyajikan kebijakan yang konsisten serta mengurangi intervensi berlebih agar sektor swasta mendapatkan ruang napas untuk kembali bergerak. Kepastian arah kebijakan menjadi fondasi esensial sebelum pelaku usaha bersedia mengucurkan modal kembali.

Menanggapi situasi tersebut, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian berupaya memberikan stimulus melalui program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Langkah ini diambil untuk menekan biaya produksi industri agar tetap kompetitif. Sementara itu, akademisi dari Universitas Katolik Atma Jaya, YB. Suhartoko, menyarankan perlunya intervensi lebih konkret dari pemerintah, seperti pemberian insentif pajak dan kemudahan pembiayaan khusus bagi pengadaan barang modal, sebagai langkah efektif untuk memacu kembali semangat ekspansi bisnis di tengah ketidakpastian global.