Menghadapi dinamika zaman yang terus berubah, institusi pesantren kini memikul tanggung jawab besar untuk terus berinovasi dalam sistem pembelajaran. Tujuannya adalah melahirkan generasi yang tidak hanya adaptif terhadap kemajuan teknologi, tetapi juga tetap teguh memegang nilai-nilai kesantrian dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan strategis ini disampaikan oleh Kasubdit Pendidikan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) dan Pendidikan Al-Qur’an Kemenag, Aziz Syafiudin, dalam momentum wisuda perdana Pesantren Noor Hasyim – Tebuireng XV di Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Acara tersebut juga sekaligus merayakan hari jadi keempat lembaga pendidikan tersebut.
Mewakili Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Aziz menegaskan bahwa pesantren harus memosisikan diri sebagai laboratorium peradaban yang inklusif. Menurutnya, santri masa depan memiliki kewajiban untuk memperluas kompetensi mereka melampaui ilmu agama, yakni dengan merambah bidang-bidang strategis seperti teknologi digital, teknik, hingga ilmu kedokteran agar mampu bersaing di kancah global.
Kendati demikian, Aziz mengingatkan agar penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak menyebabkan erosi spiritualitas. Ia mendorong para santri untuk tetap konsisten menjaga amalan ibadah serta terus memupuk rasa nasionalisme sebagai wujud cinta kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Selain memberikan motivasi, pihak Kemenag juga menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi legalitas administrasi Pesantren Noor Hasyim – Tebuireng XV. Langkah ini merupakan bentuk apresiasi pemerintah atas kontribusi nyata lembaga tersebut dalam dunia pendidikan selama empat tahun terakhir.