Harga emas dunia kembali menunjukkan tren penguatan dan kini mendekati level psikologis US$ 4.200 per troy ons. Pada perdagangan Senin (6/7/2026), logam mulia ini berada di posisi US$ 4.187,29 per troy ons, mencatatkan kenaikan sebesar 0,3% setelah performa positif sepanjang pekan lalu.

Reli harga emas ini dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang melambat pada Juni. Kondisi ini membuat pelaku pasar mulai menurunkan ekspektasi mereka terhadap agresivitas kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed), yang secara historis memberikan sentimen positif bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas.

Di sisi lain, bank investasi global JPMorgan baru saja melakukan revisi signifikan terhadap proyeksi harga emas untuk tahun 2026. Target harga pada akhir tahun dipangkas dari prediksi sebelumnya sebesar US$ 6.000 menjadi US$ 4.500 per troy ons. Langkah ini diambil menyusul adanya permintaan yang lebih rendah dari perkiraan dari para pembeli utama, serta kekhawatiran terhadap kebijakan moneter The Fed yang berpotensi tetap ketat.

Meski melakukan revisi ke bawah, JPMorgan tetap mempertahankan sikap optimistis atau bullish untuk prospek jangka panjang. Bank tersebut meyakini bahwa mulai tahun 2027, harga emas akan kembali menanjak seiring dengan kuatnya permintaan dari bank-bank sentral dunia dan akumulasi cadangan devisa secara struktural.

Perdebatan mengenai posisi emas di pasar global juga semakin menarik, terutama setelah laporan European Central Bank mencatat bahwa porsi emas dalam cadangan devisa global kini telah melampaui kepemilikan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Fenomena ini mempertegas pergeseran komposisi aset cadangan dunia di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini.