Maraknya tren produk perawatan kulit di media sosial kerap membuat masyarakat terjebak dalam pola konsumsi impulsif. Banyak konsumen akhirnya mencoba produk viral tanpa mempertimbangkan kecocokan dengan kondisi kulit mereka, yang berisiko memicu masalah baru seperti iritasi hingga jerawat.
Padahal, kunci perawatan kulit yang efektif terletak pada pemahaman mendalam terhadap kondisi dermal, mulai dari tingkat hidrasi, pigmentasi, hingga kesehatan pelindung kulit atau skin barrier. Menjawab tantangan tersebut, Erha Skincare Group kini menghadirkan teknologi analisis kulit berbasis kecerdasan buatan (AI) yang diberi nama Skin AIdentify.
Diperkenalkan dalam ajang Jakarta x Beauty 2026, teknologi ini dirancang secara khusus untuk memahami karakteristik kulit masyarakat Indonesia yang hidup di iklim tropis. Sistem ini mampu mendeteksi permasalahan kulit spesifik, seperti melasma dan hiperpigmentasi pasca-inflamasi, melalui proses pemindaian yang cukup dilakukan dengan swafoto dalam waktu sekitar tiga menit.
Direktur Brand & Marketing Erha Skincare Group, Afril Wibisono, menegaskan bahwa kehadiran teknologi ini bukan sekadar alat diagnostik mandiri. "Alat ini menjadi pintu masuk ke dalam ekosistem dermatologi yang terintegrasi, yang menghubungkan hasil analisis dengan layanan teledermatologi serta konsultasi langsung dengan tenaga ahli profesional," jelasnya.
Dengan adanya kemudahan akses informasi ini, diharapkan kebiasaan masyarakat dalam membeli produk kecantikan akan beralih dari sekadar mengikuti tren menjadi tindakan yang berbasis data medis. Langkah ini merupakan upaya preventif agar setiap individu mendapatkan perawatan yang lebih presisi, aman, dan efisien sesuai dengan kebutuhan unik kulit masing-masing.