Sektor otomotif dan komponen Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan yang solid meskipun harus menghadapi berbagai tekanan dari dinamika global maupun domestik. Penilaian tersebut disampaikan oleh Wakil Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam yang menekankan bahwa besarnya pasar dalam negeri serta konsistensi kinerja ekspor menjadi dua pilar utama penopang ketangguhan industri otomotif nasional.

"Industri otomotif itu punya resilience yang bagus. Kita punya pasar ekspor, dan pasar domestik kita juga masih besar," ungkap Bob saat ditemui di Jakarta pada Senin (29/6/2026). Ia menegaskan bahwa meski tren penjualan kendaraan dalam tiga tahun terakhir menunjukkan pelemahan yang turut berdampak pada industri komponen, kondisi riil sektor otomotif nasional tidak separah persepsi publik selama ini.

Kendati demikian, Bob tidak menampik bahwa industri komponen tengah dihadapkan pada tantangan yang cukup berat. Sebagai sektor yang bersifat padat modal sekaligus padat karya, pelaku usaha harus berhadapan dengan tekanan dari berbagai sisi, mulai dari kenaikan upah pekerja, lonjakan biaya energi, hingga kebutuhan investasi besar untuk memodernisasi fasilitas produksi agar tetap berdaya saing tinggi.

Persoalan lain yang tidak kalah krusial adalah belum adanya kepastian arah kebijakan pemerintah terkait masa depan kendaraan berbasis mesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE). Bob menyoroti bahwa berbagai insentif yang digulirkan pemerintah saat ini cenderung lebih berpihak kepada kendaraan elektrifikasi, padahal sebagian besar ekosistem komponen kendaraan listrik masih berlokasi di luar Indonesia. Menurutnya, kepastian regulasi sangat dibutuhkan untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus mendorong pelaku industri agar terus menanamkan modal dalam pembaruan teknologi dan modernisasi lini produksi.

Menanggapi isu yang beredar mengenai rencana relokasi sejumlah perusahaan besar komponen otomotif dari Indonesia, Bob secara tegas membantah kabar tersebut. Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan penelusuran yang dilakukan pemerintah, informasi mengenai relokasi investasi itu tidak terbukti kebenarannya.

Bob menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan multinasional memang sedang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi bisnis dan peta industri otomotif dalam beberapa tahun mendatang, termasuk mempertimbangkan efisiensi operasional di kawasan ASEAN. Dalam proses pengambilan keputusan tersebut, tiga faktor utama yang menjadi pertimbangan adalah daya saing, kelengkapan ekosistem industri, dan kejelasan arah kebijakan pemerintah.

Meski mengakui Vietnam semakin menarik di mata investor berkat pertumbuhan ekonomi yang impresif serta beragam insentif investasi, Bob menegaskan Indonesia tetap memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi negara lain di kawasan. Indonesia merupakan pasar otomotif terbesar di ASEAN dengan volume penjualan kendaraan yang masih mendekati satu juta unit per tahun, ditambah kapasitas ekspor kendaraan sekitar 500 ribu unit setiap tahunnya.

"Sejauh ini kita diuntungkan karena market kita yang lumayan besar. Jadi sebenarnya industri otomotif itu industri yang besar dan punya resilience yang cukup baik. Yang sekarang sedang dievaluasi adalah bagaimana prospeknya ke depan," tuturnya.

Dalam pandangan Bob, kawasan Asia Tenggara kini berkembang pesat sebagai salah satu basis produksi manufaktur dunia, tidak hanya untuk sektor otomotif melainkan juga industri elektronik dan berbagai sektor manufaktur lainnya. Oleh karena itu, Indonesia memiliki peluang besar untuk terus memperkuat posisinya dalam rantai pasok global dengan menjaga iklim investasi yang kondusif, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, serta memperluas orientasi ekspor secara strategis.