Banyak orang tua merasa khawatir saat buah hati mereka mengalami demam ringan, nyeri, atau kemerahan di bekas area suntikan setelah menjalani imunisasi. Namun, dr. Deddy Iskandar, Dokter Spesialis Anak di RS Premier Surabaya, menegaskan bahwa gejala tersebut merupakan respons imun yang wajar dan menjadi indikator bahwa vaksin sedang bekerja membentuk antibodi dalam tubuh anak.
Menurut dr. Deddy, imunisasi memiliki peran vital layaknya sabuk pengaman saat berkendara. Tujuannya bukan untuk menyembuhkan, melainkan memberikan proteksi dini agar tubuh anak mampu melawan paparan virus atau bakteri berbahaya. Mengingat sistem kekebalan tubuh anak yang masih dalam tahap perkembangan, imunisasi menjadi langkah krusial untuk mencegah infeksi fatal, kecacatan, hingga risiko kematian.
Berbagai penyakit serius seperti TBC, polio, difteri, hingga Hepatitis A dan B dapat dicegah dengan melengkapi jadwal imunisasi anak secara tepat waktu. Dr. Deddy menjelaskan bahwa efek samping ringan pasca-vaksinasi umumnya hanya berlangsung selama satu hingga dua hari dan dapat ditangani dengan mudah di rumah sesuai arahan medis.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya cakupan vaksinasi yang luas untuk menciptakan imunitas kelompok (herd immunity). Dengan memastikan anak mendapatkan vaksinasi lengkap, orang tua secara tidak langsung turut berkontribusi dalam memutus mata rantai penularan penyakit di lingkungan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan bayi.
Mengakhiri penjelasannya, dr. Deddy mengimbau para orang tua untuk tidak menunda jadwal vaksinasi dengan alasan apa pun. Jika terdapat jadwal yang terlewat, orang tua disarankan segera berkonsultasi dengan dokter untuk menyusun strategi imunisasi kejar, demi memastikan perlindungan optimal bagi tumbuh kembang anak di masa depan.