Meminta bantuan merupakan bagian tak terpisahkan dari interaksi sosial manusia. Namun, sebuah riset sosiologis terbaru yang dipimpin oleh Andrew Chalfoun dari University of California, Los Angeles (UCLA) menemukan bahwa cara seseorang menyusun kalimat permintaan sangat menentukan apakah permohonan tersebut akan dikabulkan atau justru ditolak.
Hasil penelitian yang mengobservasi 194 peristiwa interaksi dalam tujuh bahasa berbeda ini mengidentifikasi tiga strategi utama yang kerap digunakan individu. Pertama adalah gaya pesimistis yang memberikan ruang bagi lawan bicara untuk menolak secara halus. Kedua, gaya sopan rasional yang mempertimbangkan tingkat urgensi dan kedekatan hubungan. Terakhir, gaya optimistis yang cenderung berasumsi bahwa permintaan akan langsung diterima tanpa kendala.
Menariknya, data menunjukkan bahwa mayoritas orang cenderung mengedepankan gaya optimistis, meskipun tingkat keberhasilan untuk permintaan bantuan skala besar hanya berkisar antara 11 hingga 25 persen. Para peneliti menyimpulkan adanya bias kognitif yang membuat seseorang hanya berfokus pada hasil positif, sehingga mengabaikan risiko penolakan yang mungkin muncul.
Para ahli menyarankan agar strategi meminta tolong tidak diterapkan secara kaku. Untuk permintaan yang bersifat krusial kepada sosok yang tidak terlalu dekat, sebaiknya komunikator memberikan ruang bagi lawan bicara agar tidak merasa tertekan untuk berkata 'ya'. Sebaliknya, permintaan yang lebih ringan kepada kerabat atau teman akrab dapat disampaikan secara lebih langsung.
Lebih dari sekadar mengejar persetujuan, pendekatan yang tepat dinilai krusial untuk menjaga harmoni hubungan antarindividu. Memaksakan optimisme yang berlebihan saat meminta bantuan berpotensi menciptakan rasa tidak nyaman, memicu rasa bersalah, dan pada akhirnya dapat merusak kualitas hubungan jangka panjang antara kedua belah pihak.