Indeks Nikkei 225 di bursa saham Jepang mencatatkan pelemahan signifikan sebesar 2 persen pada perdagangan Kamis, sekaligus mengakhiri tren kenaikan yang sempat bertahan selama tiga hari berturut-turut. Indeks tersebut kini berada di kisaran level 69.000 setelah investor melakukan aksi jual besar-besaran di tengah meningkatnya keraguan pasar terhadap keberlanjutan reli sektor teknologi.

Tekanan jual ini disinyalir merupakan imbas langsung dari sentimen negatif di bursa Wall Street, Amerika Serikat, di mana para pelaku pasar mulai khawatir terhadap prospek pertumbuhan perusahaan-perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI). Tren bearish ini tercermin jelas pada kinerja emiten produsen cip yang terjerembap dalam; Kioxia Holdings mencatat penurunan terdalam hingga 11,4 persen, disusul oleh Advantest yang melemah 6,7 persen, dan Fujikura sebesar 6,6 persen.

Meski sektor teknologi terpukul, dinamika pasar tetap menunjukkan variasi melalui penguatan di sektor keuangan dan konsumsi. Saham Toyota Motor berhasil mencatatkan kenaikan 3,6 persen, sementara Mizuho Financial dan Mitsubishi UFJ masing-masing menguat 2,4 persen dan 1,9 persen, memberikan sedikit penyangga terhadap kejatuhan indeks secara keseluruhan.

Di sisi lain, investor global kini tengah menimbang pernyataan Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, terkait meredanya ekspektasi inflasi, yang mengisyaratkan stabilitas suku bunga acuan. Meskipun demikian, volatilitas di bursa Jepang diprediksi akan tetap membayangi pasar modal di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Mengingat adanya korelasi kuat antara saham teknologi global dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pelaku pasar domestik disarankan untuk lebih berhati-hati dalam mengambil posisi di tengah ketidakpastian regional ini.