Menjaga kualitas udara di dalam hunian merupakan aspek krusial dalam mendukung kesehatan bayi dan anak balita. Mengingat anak-anak, terutama pada usia dini, menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah, menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman menjadi tanggung jawab utama orang tua.

Dokter spesialis anak, dr. Ria Yoanita, Sp.A, menjelaskan bahwa anak-anak memiliki frekuensi pernapasan yang lebih tinggi namun dengan daya tahan tubuh yang belum optimal. Kondisi ini membuat mereka jauh lebih rentan terhadap gangguan saluran pernapasan jika kualitas udara di sekitar mereka tidak terjaga dengan baik.

Untuk meminimalisir risiko kesehatan, dr. Ria menyarankan agar orang tua lebih memperhatikan pengaturan suhu pendingin ruangan pada kisaran 24 hingga 26 derajat Celsius. Selain itu, kebersihan filter AC harus dipastikan secara rutin karena penumpukan debu dan mikroorganisme di komponen tersebut dapat memicu reaksi pernapasan yang merugikan bagi anak.

Ventilasi dan sirkulasi udara yang buruk sering kali menyebabkan kelembapan berlebih di dalam ruangan. Lingkungan yang lembap menjadi inkubator alami bagi jamur dan kuman penyebab penyakit. Sebagai langkah preventif tambahan, orang tua disarankan membatasi penggunaan produk berbahan kimia atau pewangi yang menyengat di area tempat anak beraktivitas.

Senada dengan pandangan medis, arsitek Sabine Susan Emir menekankan bahwa aspek kesehatan ruang harus menjadi prioritas utama saat merancang kamar anak. Pemilihan material furnitur hingga cat dinding yang aman merupakan fondasi penting dalam menciptakan ekosistem ruang yang mendukung tumbuh kembang anak secara sehat dan berkelanjutan.