Kasus dugaan infeksi rabies kembali menelan korban jiwa di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Seorang pria berinisial IP dilaporkan meninggal dunia setelah sempat mendapatkan perawatan intensif di RS Elim Rantepao pada Sabtu (4/7/2026).

Permasalahan bermula ketika korban mengeluhkan gejala sesak napas, nyeri tenggorokan, hingga produksi lendir berlebih. Gejala tersebut muncul beberapa bulan setelah korban mengadopsi seekor anak anjing liar pada April 2026. Menurut keterangan pihak keluarga, anjing tersebut sempat menggigit korban dan mati secara mendadak hanya berselang dua hari setelah kejadian.

Kepala Dinas Perikanan, Peternakan, dan Kesehatan Hewan Toraja Utara, Daud Pala’langan, menyatakan bahwa gejala yang dialami IP memang sangat identik dengan rabies. Pihaknya kini tengah melakukan koordinasi lebih lanjut dengan dinas kesehatan setempat untuk memastikan penyebab pasti kematian korban.

Daud menegaskan pentingnya kewaspadaan dini bagi seluruh lapisan masyarakat. Ia menekankan bahwa hewan penular rabies seperti anjing, kucing, hingga kelelawar, membutuhkan pengawasan ekstra. Pemerintah daerah pun terus mengintensifkan program vaksinasi gratis serta edukasi mengenai bahaya rabies untuk menekan angka kasus serupa di masa mendatang.

Lebih lanjut, Daud menyoroti urgensi penanganan medis yang cepat pasca gigitan hewan. Keterlambatan dalam mendapatkan Vaksin Antirabies (VAR) kerap menjadi faktor fatal, sebagaimana yang pernah terjadi pada kasus sebelumnya di wilayah Malango, di mana korban sempat memilih pengobatan tradisional sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit.

Selain ancaman kesehatan, Daud mengingatkan bahwa penyebaran rabies yang tidak terkendali dapat memberikan dampak buruk bagi sektor pariwisata Toraja Utara. Oleh karena itu, sinergi antara dinas terkait, pelaku usaha wisata, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga keamanan lingkungan dari ancaman virus tersebut.