Pada 8 Agustus 1975, sebuah malapetaka hidrologi mengguncang Provinsi Henan, China, ketika Bendungan Banqiao tidak mampu menahan beban curah hujan ekstrem. Peristiwa ini tercatat sebagai kegagalan struktural bendungan paling mematikan dalam sejarah, di mana volume air yang setara dengan 280 ribu kolam renang ukuran Olimpiade tumpah seketika, menerjang permukiman warga dengan kecepatan 50 kilometer per jam.
Dampak kerusakan meluas secara drastis akibat efek domino yang memicu jebolnya 62 bendungan lainnya di sekitar lokasi kejadian. Tragedi ini menelan korban jiwa hingga 171 ribu orang. Sekitar 26 ribu warga kehilangan nyawa secara langsung akibat terjangan banjir, sementara sisanya meninggal dunia pascabencana akibat wabah penyakit seperti kolera dan cacar, serta krisis kelaparan hebat.
Ironisnya, Bendungan Banqiao sempat dijuluki sebagai 'Bendungan Besi' karena dianggap sangat kokoh pascapemugaran menggunakan standar Uni Soviet pada dekade 1950-an. Namun, reputasi tersebut berbanding terbalik dengan realitas teknisnya. Seorang ahli hidrologi bernama Chen Xing sebenarnya telah memberikan peringatan keras mengenai potensi bahaya dari pembangunan infrastruktur air yang berlebihan di wilayah tersebut.
Dalam laporannya, Chen Xing menyarankan pemasangan 12 pintu air, namun pihak berwenang hanya memasang lima pintu air saja, sehingga kapasitas drainase bendungan tidak memadai untuk menghadapi debit air yang melimpah. Sayangnya, peringatan tersebut diabaikan oleh para pengambil kebijakan pada masa itu.
Selama berpuluh-puluh tahun, pemerintah China menutupi skala kehancuran dari bencana kemanusiaan ini. Masyarakat luas baru mengetahui detail serta besarnya dampak tragedi tersebut setelah catatan sejarah resmi dibuka kembali pada tahun 2005, atau tepat tiga dekade setelah peristiwa kelam itu terjadi.