Sebuah terobosan besar dalam bidang forensik genetika berhasil dicapai melalui kolaborasi antara Komisi Internasional untuk Orang Hilang (ICMP) dan Institut Biologi di bawah Akademi Sains dan Teknologi Vietnam (VAST). Penelitian ini membuktikan bahwa teknologi pengurutan generasi berikutnya (Next-Generation Sequencing/NGS) mampu mengekstraksi profil DNA nuklir dari sisa kerangka yang telah mengalami pembusukan ekstrem akibat iklim tropis yang menantang.
Selama ini, upaya identifikasi ratusan ribu korban perang di Vietnam terkendala oleh degradasi DNA yang parah serta minimnya sampel kontrol dari keluarga dekat. Namun, penggunaan teknologi NGS memungkinkan para ilmuwan untuk menganalisis ribuan penanda genetik secara simultan. Metode ini memberikan akurasi statistik yang sangat tinggi dalam menentukan kekerabatan, bahkan ketika hanya tersedia sampel dari anggota keluarga yang jauh.
Direktur Jenderal ICMP, Kathryne Bomberger, menegaskan bahwa pencapaian ini menjadi titik balik bagi ribuan keluarga yang telah menanti selama lebih dari lima dekade. Teknologi ini mampu melampaui hambatan fisik yang sebelumnya dianggap mustahil, memberikan harapan nyata bahwa sisa-sisa jenazah yang belum teridentifikasi di berbagai pemakaman umum dapat segera mendapatkan kepastian hukum dan emosional.
Uji coba awal yang sukses dilakukan di Pemakaman Tra Linh, Cao Bang, menunjukkan keberhasilan ekstraksi DNA dari seluruh sampel kerangka yang dianalisis. Keberhasilan ini kini menjadi landasan bagi pemerintah untuk memperluas proyek ke skala yang lebih masif, termasuk di Pemakaman Giong Rieng yang menampung ribuan makam tak dikenal. Selain pengembangan perangkat keras, tim peneliti juga tengah menyiapkan perangkat lunak pencocokan DNA otomatis guna mempercepat proses identifikasi massal.
Hasil penelitian yang didukung oleh pemerintah Amerika Serikat ini akan dipublikasikan secara resmi pada tahun 2026. Dengan validasi ilmiah yang kuat, program ini diharapkan tidak hanya menjawab misteri sejarah di Vietnam, tetapi juga menetapkan standar baru dalam penanganan identifikasi forensik korban konflik bersenjata di seluruh dunia.