Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan besar sebagai negara dengan beban penyakit dengue tertinggi di Asia Tenggara. Kendati data Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya tren penurunan angka kematian dari 0,9 persen pada 2021 menjadi 0,4 persen pada 2025, para ahli menegaskan bahwa kewaspadaan kolektif tetap harus ditingkatkan guna mencegah potensi lonjakan kasus di masa depan.
Dalam seminar ASEAN Dengue Day 2026 di FK-KMK UGM, dr. Fadjar SM Silalahi dari Kemenkes RI menggarisbawahi bahwa dengue merupakan prioritas nasional yang memerlukan perhatian serius. Senada dengan hal tersebut, pakar kesehatan anak, Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K), menyoroti bahwa durasi penyakit yang singkat dan dinamis menuntut ketepatan diagnosis sejak dini. Tantangan utama saat ini terletak pada fase awal infeksi yang gejalanya seringkali menyerupai penyakit menular lainnya.
Dari sisi manajemen kesehatan, Dr. Diah Ayu Puspandari menyoroti fenomena tingginya jumlah pasien yang langsung menuju rumah sakit rujukan tanpa melalui Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Perilaku ini tidak hanya menghambat efektivitas penanganan, tetapi juga meningkatkan beban biaya layanan kesehatan nasional. Oleh karena itu, koordinasi antarlayanan kesehatan dan pemanfaatan sistem informasi rujukan yang tepat waktu menjadi elemen vital dalam menurunkan risiko kematian.
Selain aspek klinis, aspek pembiayaan kesehatan turut menjadi sorotan. Prof. dr. Hasbullah Thabrany dari FKM UI menekankan bahwa keberhasilan target nol kematian dengue sangat bergantung pada alokasi pendanaan publik yang memadai. Menurutnya, terdapat korelasi kuat antara keterbatasan anggaran dengan masih tingginya angka kasus dan mortalitas di lapangan.
Sebagai bentuk langkah konkret, rangkaian acara di UGM juga melibatkan pendalaman teknologi pengendalian vektor inovatif berbasis Wolbachia. Melalui pengalaman implementasi selama 15 tahun, diharapkan inovasi berbasis bukti ini dapat menjadi pelengkap strategis dalam menekan penyebaran dengue di Indonesia demi mewujudkan target ambisius nol kematian pada tahun 2030.