Dunia olahraga Palestina tengah berduka mendalam. Sekretaris Jenderal Asosiasi Media Olahraga Palestina (PSMA), Mustafa Siyam, mengungkapkan data memilukan bahwa sebanyak 1.012 warga Palestina yang tergabung dalam sektor olahraga, kepemudaan, hingga kepanduan telah kehilangan nyawa akibat serangan militer Israel yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023.

Dalam keterangan persnya, Siyam merinci bahwa lebih dari 560 korban di antaranya merupakan para pemain, pelatih, serta wasit yang bernaung di bawah Asosiasi Sepak Bola Palestina. Kehilangan ini menjadi cerminan betapa luasnya dampak kehancuran yang menyasar seluruh sendi kehidupan masyarakat di Jalur Gaza.

Tidak hanya korban jiwa, agresi ini juga telah melumpuhkan infrastruktur olahraga secara sistematis. Berbagai sarana olahraga resmi kini telah hancur lebur. Ironisnya, stadion-stadion sepak bola yang dulunya menjadi ajang kompetisi, kini terpaksa beralih fungsi menjadi kamp pengungsian bagi ribuan keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat serangan udara dan darat yang tiada henti.

Situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk di tengah pengabaian terhadap seruan internasional dan perintah dari Mahkamah Internasional (ICJ). Laporan terbaru menunjukkan bahwa agresi berkepanjangan ini telah menelan ratusan ribu korban jiwa dan luka-luka, dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, disertai dengan kehancuran hampir 90 persen infrastruktur sipil di wilayah tersebut.

Selain krisis di sektor olahraga, ketegangan juga meningkat di situs-situs suci. Kementerian Wakaf Palestina mencatat peningkatan intensitas gangguan terhadap kompleks Masjid Al-Aqsa serta pembatasan akses ibadah, termasuk pelarangan kumandang azan di Masjid Ibrahimi yang terjadi berulang kali sepanjang Juni lalu. Kondisi ini mendesak komunitas internasional untuk segera mengambil tindakan konkret demi perlindungan hak asasi dan situs keagamaan di wilayah tersebut.