Ketegangan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas menyusul komentar kontroversial dari Presiden Donald Trump terkait prosesi pemakaman mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dalam wawancara bersama media Axios, Trump mengklaim bahwa ia sebenarnya memiliki kapabilitas untuk melenyapkan seluruh massa yang hadir dalam upacara tersebut hanya dengan satu serangan.

Menanggapi klaim tersebut, Kedutaan Besar Iran di Armenia mengeluarkan pernyataan keras melalui platform media sosial X. Pihak Iran menegaskan bahwa upaya fisik untuk menghilangkan nyawa seseorang tidak akan pernah mampu mematikan ideologi atau cita-cita yang telah diperjuangkan. Mereka mengibaratkan mendiang Khamenei sebagai sebotol parfum yang aromanya justru akan semakin menyebar luas ke penjuru dunia setelah dipecahkan.

Pernyataan diplomatik tersebut juga menyinggung absennya nilai-nilai peradaban, sejarah, serta kehormatan pada diri Trump. Respons ini dipicu oleh pengakuan Trump yang menyatakan bahwa ia tidak melakukan serangan tersebut semata-mata karena pertimbangan pragmatis, yakni hilangnya pihak yang bisa diajak bernegosiasi setelah insiden tersebut terjadi.

Selain melontarkan ancaman, Trump turut menyatakan keterkejutannya melihat duka mendalam dari warga Iran selama prosesi penghormatan terakhir. Ia mengklaim bahwa dirinya mengira masyarakat Iran memiliki sentimen negatif terhadap mendiang pemimpin mereka. Ayatollah Ali Khamenei sendiri diketahui gugur dalam serangan udara gabungan yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat di Teheran pada 28 Februari lalu.

Pemerintah Iran telah menetapkan jadwal upacara pemakaman selama enam hari, yang mencakup prosesi di Teheran, Qom, dan puncaknya di Kota Mashhad pada 9 Juli mendatang. Diperkirakan jutaan masyarakat Iran akan memadati jalanan, menjadikan momentum ini sebagai salah satu peristiwa global yang paling disorot oleh komunitas internasional.