Tren penguatan harga emas dunia diperkirakan bakal berlanjut pada pekan depan. Sentimen utama yang menyokong optimisme ini adalah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap langkah bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang diproyeksi akan memulai siklus pelonggaran moneter dalam waktu dekat.
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menuturkan bahwa pergerakan harga emas saat ini sangat dipengaruhi oleh tiga pilar utama: dinamika geopolitik di Timur Tengah, kebijakan moneter Negeri Paman Sam, serta aksi borong emas fisik oleh bank sentral berbagai negara.
Analisis teknikal menunjukkan bahwa harga emas memiliki titik dukungan (support) di level US$4.100 hingga US$4.000 per troy ounce. Sementara itu, untuk sisi resistensi, emas diprediksi mampu menembus level US$4.248 hingga US$4.348 per troy ounce jika sentimen positif pasar terus menguat.
Penurunan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu katalis penting yang dapat menekan laju inflasi Amerika Serikat. Jika inflasi konsisten bergerak menuju target 2%, ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga akan semakin terbuka lebar. Dalam dunia investasi, penurunan suku bunga AS secara historis selalu menjadi katalis kuat bagi kenaikan harga emas.
Selain faktor kebijakan moneter, stabilitas permintaan global juga terjaga oleh aksi akumulasi emas secara agresif yang dilakukan oleh bank sentral global. Sinergi antara kebijakan moneter yang melonggar dan permintaan yang stabil ini membuat prospek emas tetap cerah. Bahkan, Ibrahim memproyeksikan harga emas berpeluang menembus level psikologis US$5.000 per troy ounce sebelum tutup tahun 2026.