PT Indosat Tbk (ISAT) diproyeksikan akan terus menjaga momentum pertumbuhan kinerjanya hingga akhir tahun 2026. Meskipun persaingan industri telekomunikasi yang ketat sempat menyebabkan penurunan jumlah pelanggan prabayar menjadi 92 juta pada kuartal pertama 2026, fundamental perusahaan dinilai tetap kokoh melalui efisiensi operasional dan peningkatan kualitas rata-rata pendapatan per pengguna atau Average Revenue Per User (ARPU).
Para analis pasar melihat bahwa kekuatan utama Indosat saat ini terletak pada transformasi strategisnya menjadi perusahaan telekomunikasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Melalui kolaborasi strategis dengan raksasa teknologi global seperti NVIDIA dan Google Gemini, Indosat memperluas cakupan layanan digitalnya, termasuk pengembangan solusi AI yang kini mulai memberikan kontribusi positif terhadap laba bersih dan arus kas perusahaan.
Kinerja keuangan emiten ini juga mencatatkan hasil impresif pada semester pertama 2026 dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 12,10% secara tahunan menjadi Rp 15,22 triliun. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk pun turut terkerek naik sebesar 13,75% menjadi Rp 1,49 triliun, yang menjadi sinyal optimisme bagi para investor di pasar modal.
Sejumlah sekuritas, seperti Pilarmas Investindo, KB Valbury, dan Ciptadana Sekuritas, kompak memberikan rekomendasi beli untuk saham ISAT. Target harga saham dipatok di kisaran Rp 2.500 hingga Rp 2.800 per lembar, dengan menimbang potensi monetisasi dari sektor home broadband serta keberhasilan proyek FiberCo yang ditargetkan rampung pada kuartal ketiga tahun ini.
Namun demikian, para analis tetap mengingatkan investor untuk mencermati tantangan makroekonomi ke depan. Faktor-faktor seperti fluktuasi nilai tukar rupiah, tekanan pada daya beli masyarakat, hingga persaingan harga yang kompetitif di industri seluler masih menjadi variabel risiko yang perlu diperhatikan dalam menjaga stabilitas pertumbuhan jangka panjang perusahaan.