Kebijakan penarikan royalti atas penggunaan karya musik di kafe dan restoran kembali menjadi sorotan jelang pemberlakuan tarif baru pada 1 Juli 2026. Dengan kisaran biaya tahunan yang bervariasi mulai dari di bawah 1 juta VND hingga lebih dari 20 juta VND, aturan ini diharapkan mampu memberikan pendapatan tambahan bagi para pencipta lagu, meski tantangan mengenai mekanisme distribusi yang adil masih membayangi.

Musisi Dong Thien Duc menegaskan bahwa praktik pembayaran hak cipta sebenarnya bukanlah hal baru di industri kreatif. Ia menilai bahwa ekosistem bisnis, mulai dari bar karaoke hingga jaringan kedai kopi besar, sudah seharusnya terbiasa dengan kewajiban ini. Namun, muncul kekhawatiran mengenai efisiensi distribusi, mengingat adanya potongan administratif yang cukup besar oleh lembaga manajemen kolektif yang berpotensi mengurangi hak bersih para seniman.

Titik kritis dalam perdebatan ini terletak pada transparansi dan akurasi data. Banyak pemilik usaha mempertanyakan validitas sistem penagihan saat ini yang dianggap kurang spesifik dalam mencatat frekuensi pemutaran lagu tertentu. Tanpa data yang akurat, muncul risiko ketidakadilan di mana royalti disalurkan kepada musisi yang karyanya tidak diputar di tempat tersebut, sementara musisi populer justru tidak mendapatkan kompensasi yang proporsional.

Untuk menjawab kebuntuan ini, para ahli menekankan pentingnya integrasi teknologi dalam pemantauan penggunaan karya seni. Sistem analisis musik berbasis teknologi dianggap krusial agar pihak pengumpul royalti dapat membuktikan lagu apa yang diputar dan seberapa sering karya tersebut diperdengarkan. Dengan cara ini, mekanisme pembayaran dapat disesuaikan langsung dengan intensitas penggunaan karya di lapangan.

Selain tantangan teknis, industri musik kini menghadapi pergeseran tren di mana beberapa pelaku usaha mulai beralih ke musik kecerdasan buatan (AI) atau karya internasional untuk menghindari beban royalti. Meski demikian, para pelaku industri yakin bahwa musik yang lahir dari kreativitas manusia akan tetap memiliki nilai unik yang sulit digantikan oleh algoritma, selama sistem pengelolaan hak cipta mampu menjamin rasa keadilan bagi seluruh pihak yang terlibat.