Yan Taitai, perusahaan produsen sarang burung walet (EBN) asal Indonesia, kini melakukan perombakan strategis dalam operasional bisnisnya di pasar China. Perusahaan tersebut resmi bertransformasi dari sekadar pemasok rantai industri menjadi penyedia layanan inovatif yang terintegrasi secara menyeluruh.
Presiden Yan Taitai Group, Li Li, mengungkapkan bahwa langkah ini mencakup peralihan dari pola manufaktur konvensional (OEM) menuju kerangka kerja sama yang lebih kolaboratif. Strategi baru ini bertujuan untuk memberdayakan berbagai pelaku bisnis, mulai dari perusahaan rintisan hingga korporasi besar melalui arsitektur layanan teknis yang mencakup pengujian dasar, riset dan pengembangan (litbang) khusus, serta penciptaan produk bersama.
Untuk memperkuat inovasi, perusahaan menjalin kemitraan strategis dengan institusi pendidikan ternama seperti Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China Timur serta Universitas Jiangnan. Kolaborasi ini direalisasikan melalui pembangunan laboratorium bersama yang berfokus pada efisiensi pengembangan produk, mulai dari validasi bahan baku hingga formulasi produk yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Selain inovasi riset, Yan Taitai telah mengoperasikan fasilitas manufaktur cerdas di Distrik Fengxian, Shanghai, dan tengah menyiapkan pengembangan kawasan industri tahap kedua. Fasilitas ini nantinya akan menjadi pusat bagi Institut Penelitian Pangan Kesehatan (Big Health Food Research Institute) serta pusat layanan distribusi terpadu.
Di tingkat hulu, perusahaan meluncurkan "Rencana Ekspansi Lima Tahun Rumah Sarang Burung Walet Indonesia" yang menargetkan standarisasi pada 500 rumah walet. Inisiatif ini dirancang untuk memastikan ketertelusuran produk yang ketat dari hulu ke hilir, guna menjamin kualitas bagi konsumen akhir di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif.
Duta Besar Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun, menyambut positif langkah strategis ini. Ia berharap inisiatif Yan Taitai dapat menjadi tolok ukur bagi industri walet Indonesia agar lebih fokus pada peningkatan kualitas produk dibandingkan sekadar kuantitas ekspor, sehingga mampu mempererat kerja sama ekonomi bilateral antara kedua negara.