Menjaga kesehatan pernapasan di tengah kondisi lingkungan yang fluktuatif kini menjadi prioritas yang tidak bisa diabaikan. Dokter spesialis anak subspesialis respirologi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam memantau kualitas udara melalui berbagai aplikasi pemantau yang kini tersedia secara digital.

Pemantauan rutin ini memungkinkan masyarakat untuk mengetahui kapan kadar polusi udara berada pada titik yang mengkhawatirkan. Menurut dr. Wahyuni, langkah preventif yang paling efektif saat kualitas udara memburuk adalah dengan membatasi aktivitas di luar ruangan. Apabila mobilitas di luar ruangan tidak dapat dihindari, penggunaan masker yang tepat sangat disarankan untuk menyaring partikel berbahaya.

Selain polusi di ruang terbuka, dr. Wahyuni juga menyoroti ancaman polusi di dalam ruangan (indoor pollution), seperti asap rokok dan uap rokok elektrik (vape). Polutan jenis ini memiliki risiko serupa dalam memicu gangguan pernapasan. Ia menjelaskan bahwa paparan polutan secara berkelanjutan dapat melumpuhkan silia di saluran napas, yang berakibat pada penumpukan lendir dan memicu infeksi berulang.

Kondisi ini sangat berbahaya bagi individu yang telah memiliki riwayat alergi atau asma, karena kualitas udara yang buruk dapat memicu serangan asma yang lebih parah atau eksaserbasi. Sebagai informasi, berdasarkan data indeks kualitas udara (AQI) pada Kamis (2/7/2026), Jakarta sempat tercatat berada dalam kategori tidak sehat dengan konsentrasi PM2.5 yang cukup tinggi, sehingga menuntut kewaspadaan ekstra dari masyarakat dalam menjaga kualitas udara di lingkungan masing-masing.