PT Indosat Tbk (ISAT) diproyeksikan masih memiliki prospek bisnis yang cerah hingga akhir tahun 2026. Fokus perusahaan pada penguatan infrastruktur digital serta pengembangan ekosistem kecerdasan buatan (AI) menjadi motor penggerak utama yang menjaga optimisme para analis di tengah ketatnya persaingan industri telekomunikasi nasional.
Meskipun data kuartal pertama 2026 menunjukkan penurunan jumlah pelanggan prabayar dari 94 juta menjadi 92 juta, manajemen menegaskan bahwa basis pengguna tetap sehat. Indikator kesehatan bisnis terlihat dari tren penggunaan aktif harian dan bulanan yang stabil, yang menandakan bahwa kualitas pengguna kini menjadi prioritas perusahaan dibandingkan sekadar mengejar kuantitas.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menilai bahwa penurunan jumlah pelanggan tidak serta merta melemahkan fundamental perusahaan. Sebaliknya, hal ini justru mencerminkan strategi selektif terhadap pelanggan berkualitas yang mampu berkontribusi pada peningkatan pendapatan rata-rata per pengguna atau ARPU.
Transformasi Indosat menjadi 'AI Native Telco' melalui kemitraan strategis dengan NVIDIA dan Google Gemini juga dipandang sebagai langkah krusial. Selain itu, lini bisnis Neocloud yang telah mengantongi kontrak senilai US$ 170 juta dalam tiga tahun ke depan diprediksi akan terus memberikan kontribusi positif bagi arus kas perusahaan, selaras dengan rencana monetisasi FiberCo pada kuartal ketiga tahun ini.
Dukungan pertumbuhan konsumsi data serta efisiensi operasional pasca-integrasi jaringan turut mendorong kinerja keuangan yang impresif. Pada semester pertama 2026, Indosat berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 15,22 triliun dengan laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk mencapai Rp 1,49 triliun, tumbuh double digit dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kendati demikian, para analis tetap mengingatkan investor untuk mencermati beberapa risiko seperti fluktuasi nilai tukar rupiah dan ketatnya perang tarif di pasar domestik. Menimbang seluruh potensi dan tantangan tersebut, sejumlah sekuritas seperti Ciptadana Sekuritas, KB Valbury, dan Pilarmas memberikan rekomendasi beli (buy) dengan target harga berkisar antara Rp 2.500 hingga Rp 2.800 per lembar saham.