Menghadapi berbagai tantangan sektor pertanian seperti perubahan iklim, degradasi kualitas tanah, hingga maraknya alih fungsi lahan produktif, Indonesia kini mulai mengandalkan inovasi teknologi sebagai tumpuan utama. Penginderaan jauh atau remote sensing muncul sebagai instrumen krusial yang mampu memberikan data akurat untuk menjaga stabilitas ketersediaan pangan nasional.

Teknologi ini memungkinkan otoritas terkait untuk melakukan pemantauan lahan secara real-time, mendeteksi perubahan tutupan lahan, hingga memprediksi jumlah produksi pertanian dengan tingkat presisi yang jauh lebih baik. Data spasial yang dihasilkan menjadi fondasi penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pertanian yang lebih tepat sasaran dan berbasis bukti.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Geoinformatika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dede Dirgahayu, menegaskan bahwa peran geoinformatika telah bertransformasi menjadi tulang punggung dalam pengambilan keputusan di sektor pangan. Hal tersebut disampaikannya dalam webinar BRIGHTS (BRIN Talks about Geoinformatics Hot Topics) seri ketiga yang mengusung tema “Dari Citra Satelit ke Lumbung Pangan” pada Selasa (30/6).

Lebih lanjut, Dede menjelaskan bahwa BRIN saat ini terus menyempurnakan metode klasifikasi berbasis citra satelit. Inovasi ini dirancang agar mampu mengidentifikasi jenis tanaman secara lebih spesifik, sehingga pemetaan lumbung pangan nasional dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien guna mewujudkan kedaulatan pangan yang berkelanjutan.