Kebiasaan merokok masih menjadi momok kesehatan global dengan angka kematian yang mencapai jutaan jiwa setiap tahunnya. Namun, sebuah terobosan baru dari penelitian yang dilakukan oleh University of Adelaide memberikan titik terang bagi mereka yang tengah berupaya melepaskan diri dari ketergantungan nikotin melalui pendekatan aktivitas fisik.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Sport and Health Science ini melibatkan lebih dari 9.000 partisipan dalam 59 uji coba terkontrol secara acak. Temuan utama menunjukkan bahwa individu yang mengintegrasikan program olahraga ke dalam keseharian mereka memiliki peluang 15 persen lebih tinggi untuk berhenti merokok secara permanen dibandingkan mereka yang tidak aktif secara fisik.
Secara teknis, olahraga berperan dalam meredam keinginan mendadak untuk menghisap rokok. Data menunjukkan bahwa satu sesi latihan fisik mampu menekan hasrat merokok hingga 30 menit ke depan, serta secara keseluruhan mengurangi konsumsi harian rata-rata hingga dua batang rokok.
Profesor Carol Maher, selaku peneliti senior, menekankan bahwa olahraga berfungsi sebagai pendukung medis yang sangat efektif. Kendati demikian, ia mengingatkan agar metode ini dipandang sebagai pelengkap, bukan pengganti intervensi utama seperti konseling psikologis maupun pengobatan medis yang telah teruji secara klinis.
Di tengah masifnya angka kematian akibat tembakau yang mencapai 7 juta jiwa per tahun menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), temuan ini menjadi alternatif strategi yang menjanjikan. Ke depan, para peneliti berharap dapat mengkaji lebih dalam integrasi olahraga ke dalam program berhenti merokok praktis, termasuk potensi efektivitasnya dalam membantu masyarakat lepas dari ketergantungan rokok elektronik atau vaping.