Pemerintah Kabupaten Lembata secara resmi menggelar diskusi budaya bertajuk "Eksistensi Budaya Lamaholot di Era Digital" sebagai bagian integral dari kemeriahan Festival Lamaholot 2026. Perhelatan yang berlokasi di Pantai Wulen Luo, Lewoleba, pada Sabtu (4/7/2026) ini menjadi panggung bagi para pemangku kepentingan untuk merumuskan strategi pelestarian warisan leluhur di tengah akselerasi teknologi.

Diskusi strategis ini menghadirkan jajaran pejabat daerah, di antaranya Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Anselmus Ola, Kepala Bappelitbangda drh. Matias A.K. Beyeng, serta perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Dinas Komunikasi dan Informatika. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut mempertegas komitmen pemerintah dalam memadukan kearifan lokal dengan inovasi digital agar identitas budaya tetap relevan bagi generasi mendatang.

Dalam forum tersebut, para narasumber menekankan urgensi dokumentasi digital dan promosi budaya berbasis teknologi untuk memperluas jangkauan apresiasi terhadap tradisi Lamaholot. Kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, komunitas lokal seperti Pondok Perubahan dan Langit Jingga, hingga keterlibatan wisatawan mancanegara, dianggap menjadi kunci keberhasilan dalam membangun ekosistem pariwisata berbasis budaya yang berkelanjutan.

Selain upaya pelestarian, acara ini juga menjadi seruan bagi generasi muda Lembata untuk berperan sebagai duta budaya di media sosial. Diharapkan, pemanfaatan platform digital dapat meningkatkan kebanggaan masyarakat terhadap tradisi mereka sekaligus memajukan sektor pariwisata daerah tanpa harus mengikis nilai-nilai luhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.