Kanker serviks tetap menjadi ancaman kesehatan serius bagi perempuan di Indonesia, terutama karena sifatnya yang kerap tidak bergejala pada fase awal. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Prof. Dr. dr. Yudi Mulyana Hidayat, SpOG, Subsp. Onk., menegaskan bahwa keterlambatan diagnosis sering menjadi faktor utama tingginya angka kematian akibat penyakit ini.

Ketika kanker serviks memasuki stadium lanjut atau stadium 4, tubuh akan menunjukkan sinyal bahaya yang nyata. Salah satu indikator yang perlu diwaspadai adalah perubahan pada keputihan. Menurut Prof. Yudi, keputihan yang sudah disertai warna kekuningan, kemerahan, serta berbau tajam merupakan indikasi kuat adanya proses keganasan sel di area leher rahim.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa gejala klinis pada stadium lanjut sering kali melibatkan gangguan fungsi organ di sekitarnya. Perdarahan serta rasa nyeri saat berhubungan intim menjadi penanda bahwa sel kanker telah menyebar keluar dari mulut rahim. Dalam tahap yang lebih ekstrem, komplikasi bisa berupa kebocoran saluran kencing atau feses ke vagina, yang menandakan bahwa kanker telah menembus dinding organ vital tersebut.

Pemicu utama kanker serviks adalah infeksi virus Human Papillomavirus (HPV) yang umumnya ditularkan melalui kontak seksual. Beberapa faktor risiko lain yang meningkatkan kerentanan meliputi kebiasaan merokok, perilaku seksual berisiko, serta rendahnya sistem imun tubuh. Selain itu, riwayat infeksi menular seksual (IMS) juga memperbesar peluang menetapnya virus HPV dalam tubuh.

Meski tergolong penyakit berbahaya, Prof. Yudi menekankan bahwa kanker serviks bukanlah sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan, melainkan perlu diwaspadai melalui tindakan preventif yang konsisten. Ia menyarankan perempuan untuk disiplin melakukan skrining rutin melalui metode Pap smear, tes HPV, maupun Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA).

Langkah pemeriksaan dini tersebut terbukti efektif dalam memetakan keberadaan sel abnormal sebelum berkembang menjadi kanker invasif. Dengan kesadaran tinggi untuk melakukan deteksi dini, risiko kematian akibat kanker serviks dapat ditekan secara signifikan sekaligus meningkatkan kualitas hidup perempuan Indonesia.