Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali mencekam setelah dihujani serangan gabungan berupa gelombang drone dan rudal balistik oleh pasukan Rusia pada Selasa (1/7/2026) malam waktu setempat. Serangan masif ini memicu kobaran api di sejumlah titik vital di pusat kota dan memaksa ribuan warga sipil segera mencari perlindungan di bunker-bunker bawah tanah.

Aksi militer Rusia ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, memberikan peringatan keras kepada publik. Saat melakukan kunjungan kerja ke Irlandia, Zelensky mengungkapkan bahwa intelijen negaranya telah mendeteksi persiapan Rusia untuk melancarkan serangan besar-besaran yang sudah direncanakan sejak lama oleh pihak Kremlin.

Berdasarkan laporan Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, salah satu insiden terjadi di Distrik Shevchenkivskyi, di mana atap sebuah bangunan non-hunian terbakar hebat akibat hantaman proyektil. Kepala Administrasi Militer Kota Kyiv, Tymur Tkachenko, turut mengonfirmasi adanya kebakaran di area hotel di distrik yang sama serta jatuhnya puing-puing drone di dekat area pemukiman warga di Distrik Desnianskyi.

Sistem pertahanan udara Kyiv sempat bekerja keras mencegat berbagai target di sekitar perimeter kota. Namun, otoritas setempat tetap waspada karena ancaman dinilai belum berakhir. Pejabat militer memperingatkan bahwa serangan ini kemungkinan besar merupakan bagian dari gelombang ofensif yang lebih luas dan dapat berlanjut dalam beberapa hari mendatang.

Zelensky menegaskan bahwa rentetan serangan ini menjadi bukti nyata bahwa Rusia masih enggan menempuh jalur diplomasi meski Ukraina telah membuka ruang negosiasi. Saat ini, tim penyelamat dan pemadam kebakaran masih terus bersiaga di lokasi terdampak untuk menanggulangi dampak kehancuran yang ditimbulkan oleh serangan udara tersebut.