Meniti karier di pusat teknologi global seperti Singapura menjadi tantangan tersendiri bagi talenta muda Indonesia. Namun, hambatan tersebut dapat diatasi melalui kombinasi pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri serta pengembangan jejaring profesional sejak di bangku kuliah.
Kathina Putri, alumnus program Bachelor of Information Technology (BIT) di James Cook University (JCU) Singapore, mengungkapkan bahwa keberhasilannya menembus pasar kerja internasional berakar pada kurikulum kampus yang aplikatif. Ia menekankan bahwa fokus pembelajaran tidak hanya pada teori teknis seperti struktur data, algoritma, dan pemrograman, tetapi juga pada penerapan metodologi agile yang umum digunakan di perusahaan teknologi dunia.
Selain kemampuan teknis, kurikulum di JCU turut mengasah kemampuan berpikir kreatif dan kewirausahaan. Melalui mata kuliah seperti 'design thinking' dan pengembangan bisnis, mahasiswa didorong untuk tidak sekadar menjadi teknisi, melainkan sosok 'builder' yang mampu mempresentasikan solusi produk secara efektif di hadapan klien atau pemangku kepentingan.
Pengalaman berharga juga didapatkan Kathina melalui proyek simulasi 'design sprint'. Proyek intensif ini menuntut kolaborasi antarbudaya dalam lingkungan yang penuh tekanan, yang terbukti krusial dalam membentuk cara berpikir strategis dan kemampuan pemecahan masalah saat ia memasuki dunia kerja profesional.
Selain aspek akademik, keterlibatan aktif dalam organisasi kemahasiswaan seperti PPI Singapura turut memainkan peran vital. Melalui kegiatan organisasi, ia mengasah keterampilan manajemen waktu, negosiasi, dan komunikasi strategis—kompetensi non-teknis yang sering kali menjadi pembeda utama bagi kandidat profesional di mata perekrut global.