Kondisi darurat tengah melanda Venezuela menyusul rangkaian gempa bumi kembar yang mengguncang negara tersebut pada 24 Juni lalu. Data terbaru hingga Selasa (30/6) mencatat angka kematian akibat bencana ini telah menembus 1.943 jiwa, dengan lebih dari 10.500 orang mengalami luka-luka dan ribuan lainnya masih dinyatakan hilang.

Dampak kerusakan infrastruktur akibat gempa berkekuatan Magnitudo 7,2 dan 7,5 tersebut sangat masif. Berdasarkan analisis citra satelit NASA, sekitar 58.870 bangunan dilaporkan hancur atau mengalami kerusakan berat. Situasi ini memaksa puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa tidur di area terbuka di tengah kelangkaan kebutuhan dasar.

Kota pelabuhan La Guaira menjadi wilayah dengan dampak paling parah. Di sana, lumpuhnya layanan dasar dan terputusnya saluran komunikasi memicu ketegangan sosial di antara warga yang berebut pasokan bantuan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UNHCR saat ini tengah berupaya menggalang dana sebesar US$ 14,85 juta untuk membiayai kebutuhan mendesak bagi 30.000 pengungsi selama enam bulan ke depan.

Di samping tantangan logistik, otoritas kesehatan dunia (WHO) memperingatkan adanya potensi munculnya wabah penyakit menular, seperti campak dan difteri. Kondisi sanitasi yang buruk akibat keterbatasan tempat berlindung serta rendahnya cakupan vaksinasi nasional sebelum bencana terjadi, membuat layanan kesehatan di Venezuela kini berada dalam tekanan ekstrem.

Merespons situasi ini, dukungan internasional telah mengalir. Sebanyak 27 negara telah mengirimkan lebih dari 40 tim pencarian dan penyelamatan yang dibantu oleh lebih dari 2.000 personel dan anjing pelacak. Meski jendela waktu kritis pencarian korban telah terlewati, upaya evakuasi di titik-titik reruntuhan bangunan tetap dilakukan guna mencari penyintas yang mungkin masih terjebak.