Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali menjadi sasaran serangan udara masif yang dilancarkan oleh militer Rusia pada Kamis (2/7) dini hari waktu setempat. Berdasarkan laporan dari Angkatan Udara Ukraina, tercatat lebih dari 20 unit rudal balistik dan rudal jelajah telah menghujani wilayah tersebut dalam rentang waktu dua jam pertama.
Dampak dari gempuran tersebut sangat merusak. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengonfirmasi bahwa insiden ini telah menelan lima korban jiwa dan melukai sedikitnya 34 warga, dengan 32 orang di antaranya harus menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Kerusakan material pun dilaporkan meluas, mulai dari terbakarnya sejumlah gedung apartemen hingga hancurnya atap hotel di pusat kota akibat hantaman proyektil.
Salah satu titik terparah berada pada sebuah blok apartemen sembilan lantai yang sebagian strukturnya runtuh diterjang rudal. Hingga saat ini, otoritas setempat masih melakukan evakuasi dan pendataan di lapangan, sehingga angka pasti dari total korban diperkirakan masih bisa bertambah seiring berjalannya proses pencarian.
Sebelum serangan terjadi, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah memberikan peringatan dini kepada masyarakat terkait potensi eskalasi udara dari Rusia. Menurut Zelensky, pihak intelijen telah mendeteksi persiapan matang Kremlin dalam meluncurkan operasi serangan besar tersebut sebagai ancaman nyata yang membayangi negara itu.
Ketegangan ini dinilai sebagai bagian dari babak baru dalam konflik berkepanjangan yang telah berlangsung sejak Februari 2022. Serangan ini terjadi menyusul langkah Ukraina yang sebelumnya menggempur dua fasilitas kilang minyak di Ufa, Rusia. Aksi saling balas ini merupakan bagian dari strategi militer Ukraina yang dikenal sebagai 'operasi 40 hari' dengan tujuan menekan Rusia agar bersedia membuka ruang perundingan damai.