Tren pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia kini menunjukkan pola yang semakin mengkhawatirkan. Fenomena yang sebelumnya terbatas pada industri padat karya seperti tekstil, garmen, dan alas kaki, kini telah merambah ke sektor jasa hingga perusahaan teknologi. Kondisi ini mencerminkan dampak perlambatan ekonomi yang kian sistemik terhadap berbagai lini bisnis di Tanah Air.

Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad, mengungkapkan bahwa perluasan PHK ini menandai tekanan ekonomi yang tidak lagi hanya berpusat pada manufaktur. Selain manufaktur, sektor-sektor yang sangat bergantung pada aktivitas konsumsi masyarakat dan operasional bisnis kini mulai goyah. Industri pendukung konstruksi seperti besi, baja, dan produk plastik pun turut menghadapi tantangan serupa.

Sektor manufaktur tetap menjadi titik yang paling rentan akibat himpitan biaya logistik yang tinggi serta kenaikan harga bahan baku impor. Kondisi ini diperparah oleh melemahnya nilai tukar rupiah, yang pada akhirnya membuat daya saing produk dalam negeri di pasar global maupun domestik kian tergerus. Di saat bersamaan, permintaan ekspor yang menurun akibat perlambatan ekonomi dunia membuat posisi industri nasional semakin sulit.

Tak hanya faktor eksternal, derasnya arus barang impor—baik yang masuk secara legal maupun ilegal—menjadi tantangan besar bagi produsen lokal. Produk impor yang ditawarkan dengan harga jauh lebih kompetitif di platform e-commerce semakin menekan eksistensi industri domestik, terutama pada sektor elektronik dan sandang. Penurunan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah pun memperburuk fase kontraksi yang kini dialami oleh banyak pelaku usaha.

Guna meredam gelombang PHK, Tauhid mendorong pemerintah agar segera menerapkan langkah perlindungan pasar domestik yang lebih tegas, seperti kebijakan antidumping dan instrumen pengamanan perdagangan. Selain itu, pemberian insentif fiskal, restrukturisasi pinjaman bagi pelaku usaha, serta kemudahan akses perizinan dinilai krusial agar dunia usaha tetap mampu bertahan dan menjaga stabilitas tenaga kerja di tengah tantangan ekonomi nasional.