Pesatnya pertumbuhan industri kuliner dan kedai kopi di Jawa Timur tidak hanya menjadi lokomotif penggerak ekonomi daerah, tetapi juga memicu pergeseran gaya hidup yang signifikan. Tren 'nongkrong' dan bekerja dari kafe kini telah membentuk pola konsumsi baru yang mengkhawatirkan, terutama terkait tingginya asupan makanan dan minuman berpemanis di kalangan generasi muda.
Hasil riset dari Yayasan Generasi Inovatif dan Tunas Unggul (Yagitu) terhadap 437 responden menyoroti adanya kesenjangan tajam antara pemahaman masyarakat akan hidup sehat dengan realitas praktiknya sehari-hari. Meski banyak anak muda menyadari pentingnya nutrisi, hambatan berupa keterbatasan waktu, biaya, serta lingkungan sosial yang kurang mendukung membuat konsistensi hidup sehat sulit dipertahankan.
Sekretaris Yagitu, Nuryadi, mengungkapkan bahwa sebanyak 56 persen responden kini lebih sering mengonsumsi produk olahan di kafe. Sementara itu, 41,2 persen responden mengaku mengonsumsi minuman manis karena alasan selera, yang kemudian memicu kekhawatiran akan peningkatan prevalensi penyakit tidak menular seperti diabetes, obesitas, dan hipertensi pada usia produktif.
Menanggapi temuan tersebut, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor dalam merumuskan kebijakan. Pemerintah berupaya mencari titik keseimbangan antara menjaga produktivitas ekonomi pelaku usaha dengan pemberian edukasi kesehatan yang lebih implementatif bagi masyarakat luas.
Di sisi lain, Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Jawa Timur menegaskan bahwa tantangan kesehatan saat ini telah berubah menjadi beban ganda. Selain isu stunting, risiko gaya hidup sedenter (kurang gerak) yang dibarengi dengan pola makan tinggi gula menjadi ancaman nyata yang harus segera diatasi demi mewujudkan visi Generasi Emas 2045 yang sehat dan tangguh.