Menjaga kesehatan di usia dewasa membutuhkan langkah proaktif, terutama bagi kaum pria yang kerap mengabaikan pemeriksaan medis berkala. Ahli bedah kardiotoraks, dr. Jeremy London, menekankan pentingnya disiplin dalam memantau kondisi kesehatan melalui data laboratorium yang akurat agar tindakan preventif dapat segera dilakukan.

Salah satu parameter yang disoroti adalah Apolipoprotein B (ApoB). Berbeda dengan tes kolesterol konvensional, ApoB memberikan gambaran lebih presisi mengenai jumlah partikel pembawa kolesterol berbahaya dalam darah, yang berfungsi sebagai indikator risiko serangan jantung dan stroke yang jauh lebih akurat.

Selain itu, pemeriksaan Lipoprotein(a) atau Lp(a) menjadi sangat vital. Karena kadarnya lebih banyak dipengaruhi oleh faktor genetika dibandingkan gaya hidup, mengetahui angka ini sangat membantu pria untuk memahami risiko bawaan penyakit jantung, terutama mengingat pria tidak memiliki perlindungan alami dari estrogen seperti pada wanita.

Di sisi lain, pemantauan kadar testosteron juga tidak boleh diabaikan. Penurunan hormon ini secara alami seiring usia tidak hanya berdampak pada libido, tetapi juga memengaruhi massa otot, tingkat energi, hingga kesehatan mental secara keseluruhan. Pemantauan berkala dapat menjadi dasar pertimbangan apakah seseorang memerlukan terapi hormon.

Terakhir, bagi pria yang telah memasuki usia 50 tahun ke atas, pemeriksaan Prostate-Specific Antigen (PSA) menjadi kewajiban. Protein yang dihasilkan kelenjar prostat ini berfungsi sebagai indikator penting untuk mendeteksi adanya peradangan, pembesaran prostat, maupun risiko kanker prostat sejak dini. Disarankan bagi para pria untuk segera berkonsultasi dengan dokter guna menjadwalkan pemeriksaan rutin ini.