Jaringan bisnis milik Donald Trump dilaporkan telah memperkuat pengaruhnya di kawasan Timur Tengah dengan capaian pendapatan mencapai Rp5,1 triliun sepanjang tahun 2025. Angka fantastis ini menunjukkan keberhasilan penetrasi mantan Presiden Amerika Serikat tersebut dalam sektor finansial dan real estat di negara-negara Teluk, yang kini menjadi episentrum investasi global baru.
Strategi bisnis yang diterapkan Trump di wilayah ini dinilai sangat matang dengan mengandalkan dua pilar utama, yakni aset digital atau cryptocurrency dan lisensi properti kelas atas. Pemanfaatan teknologi blockchain di negara-negara Teluk menjadi katalis utama bagi pertumbuhan aset digital dalam portofolio Trump, yang kini mulai menarik perhatian besar dari investor institusional di kawasan tersebut.
Selain sektor teknologi, proyek-proyek real estat premium yang dikembangkan melalui kemitraan dengan pengembang lokal di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain telah menjadi simbol prestise baru. Langkah ini dinilai sebagai upaya strategis dalam diversifikasi portofolio untuk memitigasi risiko volatilitas mata uang tradisional dan aset konvensional yang kerap bergejolak di pasar global.
Meski meraih sukses finansial, geliat bisnis ini tetap menyisakan catatan kritis terkait transparansi dan regulasi internasional. Otoritas pengawas keuangan Amerika Serikat dikabarkan terus memantau transaksi berskala besar ini guna memastikan kepatuhan terhadap standar anti-pencucian uang dan hukum sanksi internasional yang berlaku, mengingat besarnya dampak arus modal tersebut terhadap stabilitas geopolitik regional.