Laju ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan menyentuh angka US$100 miliar atau setara Rp1.800 triliun ternyata belum dibarengi dengan pertumbuhan signifikan pada sektor produktif masyarakat. Berdasarkan riset mendalam dari NEXT Indonesia Center yang bertajuk 'Perilaku Digital Kelas Menengah', mayoritas masyarakat Tanah Air saat ini masih menempatkan diri sebagai konsumen aktif di berbagai platform e-commerce.

Data yang diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara besarnya nilai transaksi dengan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan ekosistem digital untuk berwirausaha. Peneliti NEXT Indonesia Center, Rezky Reza Pratama, menekankan bahwa ekosistem digital saat ini cenderung menjadi sarana konsumtif ketimbang instrumen pemberdayaan ekonomi bagi pengguna.

Rezky menambahkan bahwa tolok ukur keberhasilan ekonomi digital tidak seharusnya hanya terpaku pada volume transaksi yang fantastis. Keberlanjutan ekonomi digital yang sehat justru sangat bergantung pada seberapa besar kontribusi platform tersebut dalam mencetak sumber penghasilan baru bagi masyarakat luas.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengambil kebijakan maupun pelaku industri untuk mulai menggeser paradigma pengguna dari sekadar pembeli menjadi produsen digital. Transformasi ini dianggap krusial agar nilai ekonomi digital nasional dapat memberikan dampak yang lebih merata dan berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat kelas menengah ke depan.